Posted by : Unknown Sabtu, 05 Maret 2016


Cinta Ku


“Ma, aku berangkat dulu yah,” pamitku pada mama yang sedang membereskan rumah.
“Hati-hati Nak, ingat kesan baik di hari pertama masuk sekolah,” ucap mama.
“Iyaa Ma, Rita udah gede,” balasku pada mama.
Nama gue Rita Vrilla. Gue adalah anak tunggal dari mama papa Gue. Hari ini merupakan hari pertama gue masuk ke sekolah baru. Gue bukannya baru masuk kelas 1 tapi gue adalah murid pindahan. Sekarang ini gue udah kelas XI. Gue pindah karena mama dan papa gue pindah ke sebuah kompleks baru. Jadi, otomatis gue juga harus ikut pindah sekolah. Kebetulan sekolah baru gue juga nanti dekat kok dari rumah.
Di sekolah.
“Hei anak-anak, Ibu mau kenalkan teman kalian,” tanya seorang guru.
“Silahkan masuk,” Suruh ibu guru.
“Ya Bu, makasih.
“Silahkan perkenalkan nama kamu,” ucap Ibu Guru.
“Baik Bu, Hai semua, perkenalkan gue Rita Vrilla. Gue pindahan dari SMA 1 BANGSA. Mohon bantuannya. Makasih,” ucapku memperkenalkan diri pada teman-teman baru aku. Tetapi mereka terlihat memiliki ekspresi yang sangat datar. Seakan tidak menyukai datangnya teman baru.
“Baik Rita. Kami silahkan duduk di dekatnya Rita,” ucap Ibu Guru.
“Baik Bu, terima kasih,” ucapku balik pada Guru itu. Gue pun menuju ke arah bangku yang ditunjukkan oleh ibu.
“Hai Rit, perkenalkan Gue Rita. Senang bisa berkenalan denganmu,” katanya dengan senyuman yang ramah.
“Iya gue juga,” membalas senyumnya.
Teett… teet, bel tanda pulang pun berbunyi. Semua siswa berlarian untuk pulang ke rumah masing-masing. Hari pertama di sekolah baru pun berakhir begitu saja. Tidak ada kesan tapi lumayanlah udah ada Rita yang mau jadi temanku. Dia orangnya baik, ramah, dan periang.

“Ma. Aku pulang,” kataku pada mama dengan wajah yang lesuh.
“Naik ganti bajumu dan turun untuk makan,” ucap mama padaku. Aku mulai menaiki anak tangga dan akhirnya sampai di depan kamarku. Aku lalu membuka kamarku dan merebahkan badanku di kasurku yang empuk. “Huft, hari ini bener-benar melelahkan buatku,” Gumamku sendiri.
“Rita udah selesai ganti bajunya. Cepetan turun sini makan,” teriak mama.
“Iya Mam, bentar lagi Rita Turun,” ucapku balik pada mama.
Gue udah memulai bisa beradaptasi dengan suasana di sekolah ini. Gue menjalani hari-hari gue seperti biasanya, seperti saat-saat gue masih di sekolah lama gue.
“Kok, bengong aja sih neng,” tegur Rita yang memegang pundakku. Aku pun terperanjat.
“Eh, lo Rita. Gue kirain siapa tadi bikin kaget aja nih anak,” Ngomel-ngomelku padanya.
“Iya sorry Rit, ke kantin yuk. Gue lapar nih,” ajaknya Rita padaku.
“Sorry Ret, gue lagi ngak lapar. Kamu aja yang pergi. Nggak apa-apakan Ret kalau lo pergi sendirian aja,” kataku pada Rita dengan rasa tidak enak.
“Don’t worry Rit. Santai aja. Gue udah biasa kok kek kantin sendirian. Bye Rit. Gue pergi duluan yah,” Ucapnya padaku sambil meninggalkanku sendirian di kelas.
“Bye,” balasku dengan seulas senyuman.

“Dani… Dani… Dani,” teriak suara cewek-cewek.
“Ada apaan sih di luar. Kok pada Ribut-ribut sekali sih,” gumamku sendiri.
Gue pun memutuskan untuk pergi ke luar dan melihat apa yang sedang terjadi.
“Eh..eh.. ada apa sih kok pada ribut-ribut segala lagi?” tanyaku pas salah seorang siswa.
“Nih lagi ada Dani main basket. Keren banget tahu,” jawabnya tapi tidak melihat wajahku sama sekali.
“Siapa si tuh Dani, kok banyak banget yang Fans sama dia. Apa hebatnya sih dia?” gumamku sendiri dalam hati. Aku pun memutuskan sendiri untuk melihat bagaimana sih orang yang disebut Dani. Seberapa tampannya si dia.
“Waw, memang keren sih, pantes banyak banget yang Fans sama dia,” ucapku pada diriku sendiri.
“Tapi apa peduli gue sama dia. Aku nggak kenal sama dia. Kenapa gue harus ikut-ikut teriak kayak orang gila,” Ocehku dalam hati. Tiba-tiba sebuah benda mengenai kepalaku rasanya sakit sekali. Mataku jadi berkunang-kunang. Dan lama kelamaan kepalaku jadi berat dan akhirnya semua pun menjadi gelap. Aku tidak sadarkan diri. Beberapa menit pun kemudian aku sadar. Tapi kepalaku masih terasa sakit sekali. Ku lihat ada Rita duduk di samping Gue. Gue pun bertanya padanya.
“Ret, gue lagi di mana nih?” tanyaku padanya.
“Ya lo ada di UKS lah. Mau di mana lagi?” ucapnya dengan nada yang mengkhawatirkan.
“Memang gue habis ngapain kok aku ada di UKS?” Tanyaku dengan rasa penasaran.
“Lo nggak ingat ya. Lo tuh tadi pingsan gara-gara kena bola basketnya Dani,” Rita menjelaskannya.
“Gitu ya Ret,” Jawabku karena udah ngerti.
“Udah siuman yah?” tanya seseorang di depan pintu.
“Iya, Dan. Ini Rita udah bangun,” jawab Rita.
“Oh. Jadi nama kami Rita ya,”
“Iyaa, kenapa?” tanya ku padanya.
“Nggak kok, gue cuman mau minta maaf atas kejadian tadi,” Jelaskannya dengan wajah yang mengkhawatirkanku.
“Iya nggak apa-apa kok itu juga bukan sepenuhnya salahmu,” ucapku singkat padanya.
“Rita kita kelas aja yuk. Gue udah mendingan nih,” kataku pada Rita.
“Baiklah Rit gue duluan yah Dani,” ucap Rita pada Dani.
“Iya Ret,” balsnya dengan senyuman.
Aku pun hanya berlalu di samping Dani tanpa menatapnya. Entah kenapa aku merasa malas aja melihatnya. Padahal kata anak-anak di sekolah ini Dani yang paling Top di antara semua cowok-cowok yang ada di sekolah ini. Tapi aku rasa ak tidak tertarik sama sekali dengannya. Tipe cowok yang aku sukai itu tidak seperti dia. Aku suka cowok yang sederhana dan yang ngak Top. Karena kalau gue pacaran sama cowok yang Top di sekolahan bisa-bisa mati gue dibully sama fans-fansnya.
“Rit lo kok cuek banget sama Dani tadi? Nyesel loh nggak kenalan dengan Dani. Padahal nih dia itu cowoknya perfect banget Dani benar-benar keren,” tanyanya padaku.
“Apa peduliku pada orang-orang seperti itu,” balasku pada Rita.
“Kamu kok gitu sih Rit, sayang tahu kesempatan tadi lo buang sia-sia. Padahal Dani orang baik banget loh,” Ucapnya dengan kesel.
“Udah-udah malas gue itu mulu. Lama-lama kepalaku jadi sakit. Mau lo gue pingsan lagi di sini,” ancamku padanya.
“Ok..ok gue nggak akan bahas lagi tentang Dani,” ucapnya padaku.
View’s Dani.
“Bagimana Dan, dengan cewek yang lo kena Bola Basket tadi?” tanya temanya pada Dani.
“Dia baik-baik aja kok Yan, hanya saja ia terlalu cuek padaku,” ucap Dani pada temannya.
“Waw kasihan banget sih lo dan gue juga mau bilang cewek yang lo kena bola itu dari kelas XI IPA 2, dia itu seorang siswa pindahan. Jadi otomatis ia tidak terlalu kenal sama kamu,” ucap Iyan pada Dani dengan menjelaskan.
“Pindahan yah,”
“Iya,”
“Pindahan dari mana?”
“Kalau nggak salah denger dia pindahan dari SMA 1 Bangsa. Ngomo-ngomong ngapain lo nanya-nanya soal cewek itu. Heran deh gue,” ucapnya dengan rasa sedikit curiga.
“Nggak kok, gue cuman mau nanya aja. Soalnya ia beda sekali dengan cewek-cewek lainnya. Hanya saja ia terlalu dingin pada orang,” ucap Dani.
“Kasihan deh lo Dan. Dicuekin sama murid baru. Kalau sampai fansmu tahu ada cewek yang berani cuekin kamu. Habis deh itu cewek. Hahahaha,” ucapnya pada Dani.
“Lo apa-apaan sih Yan.”
“Nggak kok, gue cuman bercanda aja,”
“Ya udah, kita ke kelas aja yuk Yan, gue lagi nggak mood nih,”
“Oke lah,”
View’s Rita
“Rit lo kenapa sih cuekin Dani tadi?” tanya Rita.
“Nggak kok Ret, gue cuman malas aja berhubungan dengan orang,” jawabnya dengan nada sedikit lemas.
“Oke iya Rit. Tadi Dani kelihatan kecewa sekali tuh waktu kamu cuekin Dia,” kata Rita.
“Terus gue harus bilang apaan?” cetusku.
“Ya setidaknya lo ajak dia ngomong, karena kan dia merasa bersalah gara-gara insiden tadi,” ucap Rita dengan nada sedikit kesal.
“Ya maaf,”
Sejak kejadian hari itu Dani sering main ke kelasku. Entalah apa tujuannya gue nggak tahu dan nggak pengen tahu. Gue cuek-cuek aja sama dia. Lagian di kelas juga banyak yang ngefans sama dia. Waktu Dani datang ke kelas gue semua cewek-cewek pada ngerumunin dia. Berisik banget. Ada yang minta tanda tangan, ada yang minta foto, dan macam-macam deh. Rasanya tuh kelas udah kayak pasar ikan. Ibaratnya nih di pasar tinggal satu ekor ikan besar dan para pengunjung ingin membelinya. Mereka berebutan hanya untuk mendapatkan satu ikan itu. Kasihan deh itu ikan. Makin nggak betah deh gue tinggal di sini. Hawanya tuh panas banget huuft. Lebih baik gue jalan-jalan ke taman sekolah aja buat cari angin daripada tinggal di kelas sumpek banget gara-gara fansnya Dani.
“Kasihan deh ikan,” umpatku pada Dani. Dani pun langsung menoleh ke gue dengan tatapan mata sinis. Yah otomatis gue langsung lari.
“Hey, mau ke mana loh,” teriak Dani ke gue. Gue nggak noleh sedikit pun ke dia.
“Akhirnya sampai juga di taman,” gumamku sendiri. Waw… tamannya indah sekali, tapi kok kenapa jarang sekali siswa yang datang ke sini padahal di suasanannya adem sekali. Taman ini sangat nyaman untukku, taman ini nantinya akan jadi temanku, tempat melepaskan semua lelahku. Tak akan ada orang tahu jika aku menyimpan semua kisahku di tempat yang indah ini. Waw.. jadi pengen tidur deh.
“Woy,” teriak Dani mengagetkan gue.
“Apa-apaan sih lo Dani, bikin gue kaget aja nih,” teriakku pada Dani dengan kesal.
“Ya Maaf Rit, lo sih ngelamun aja kerjaannya,” ucap Dani.
“Hmm… iya,” ucapku membalas ucapan Dani.
“Rit, kenapa sih lo selalu menghindar kalau gue ke kelas lo,” tanya Dani dengan muka agak serius.
“Nggak kok, gue nggak betah aja tinggal di kelas karena terlalu ribut jika lo datang,” ucapku pada Dani.
“Tapi kan setidaknya lo senyum ke gue biar gue nggak rasa sakit,”
“Sakit kenapa lo?” tanyaku pada Dani.
“Yah sakit hati lah,” jawab Dani.
“Kenapa lo sakit hati?” tanyaku lagi pada Dani.
“Rit, sebenarnya gue pengen ngomong sesuatu sama lo,” kata Dani.
“Mau ngomong apa Dan?” tanyaku penasaran sama Dani.
“Rit, gue suka sama lo. Mau nggak lo jadi pacar gue?” tanya Dani padaku.
“Alasannya lo suka sama gue apa, padahal di sekolah ini masih banyak cewek yang melebihi cantik dari gue. Kenapa harus gue yang lo pilih jadi pacar lo?” tanyaku pada Dani.
“Karena gue sayang sama lo Rit, sejak pertama kali kita ketemu tidak tahu kenapa jantung selalu berdenyut dengan kencang. Termasuk saat gue ihat lo maka jantung ini akan kembali berdenyut lagi,” ucap Dani padaku.
“Terus bagaimana dengan fans-fans lo jika mereka tahu apa yang terjadi sama gue. Gue nggak mau punya masalah di sekolah,” ucapku.
“Nggak peduli, gue bakalan terus lindungi lo,” kata Dani.
“Serius loh?” tanyaku.
“Iya Rit, gue serius. Mau nggak jadi pacar gue?” kata Dani.
“Iyya Dan, gue mau,” ucapku pada Dani.
“Makasih Rit, gue sayang sama lo,” ucap Dani padaku dengan muka yang ceria dan tersenyum.
“Iyya Dan,” balasku. Dani menggenggam tanganku dan gue pun bersandar di bahu Dani. Begitu nyaman sekali. Perpaduan antara Dani dan taman ini sangat dan sangat nyaman. Taman ini menjadi saksi bersatunya cinta kami. Dani menjadi orang sangat berharga bagiku. Padahal gue pikir gue nggak bakalan bisa bersatu dengan Dani karena Dani merupakan orang sangat populer di sekolahan.
SELESAI

sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-cinta/cinta-ku.html

{ 6 komentar... read them below or Comment }

- Copyright © Nabila - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -